Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Karya Ibnu Sina, fisikawan
terbesar Persia abad pertengahan , memainkan peranan penting pada Pembangunan
kembali Eropa.
Sebagai salah satu ilmuwan
berpengaruh di abad pertengahan masa kejayaan Islam, Ibnu Sina telah membaca
Alquran dan sastra sejak umur 10 tahun. Dia dilahirkan dari pasangan Setareh
dan Abdullah pada 980 Masehi di Uzbekistan.
Dibimbing oleh Natili, Ibnu
Sina belajar logika dasar dan pada usia 16 tahun mempelajari ilmu pengobatan.
Saat Sultan Bukhara jatuh sakit, Avicenna-lah yang berhasil menyembuhkannya.
Sebagai ucapan terima kasih, seperti ditulis Encyclopedia Britannica, sang
sultan membuka perpustakaan kerajaan Samanid untuknya.
Sejak itu, ia mulai menulis
pada usia 21 tahun dan menghasilkan 240 tulisan. Karya-karyanya melintasi
bidang-bidang matematika, geometri, astronomi, fisika, kimia, metafisika,
filologi, musik, dan puisi.
Laki-laki yang dikenal tidak
pernah menikah hingga akhir hayatnya ini sulit diketahui catatan mengenai
kehidupan pribadinya. Satu-satunya sumber dari otobiografi yakni catatan yang
didiktekan pada anak didiknya, al-Juzjani. Terlepas dari itu semua,
kecerdasan karya-karyanya sebagai dokter muslim pertama memberikan pengaruh
mendalam terhadap sekolah-sekolah medis Eropa hingga abad ke-17.
Akhir hidup filsuf eksentrik
ini berakhir di bulan Ramadan 1037 Masehi, saat dalam perjalanan menemani Ala
al-Dawla menuju Hamadan. Ia meninggal karena sakit perut, mengalami luka parah,
dan tidak bisa bertahan hingga menghembuskan napas terakhir.
Pada 1913, dokter dan profesor
kedokteran Kanada, Sir William Osler menyebut Ibnu Sina sebagai "penulis
buku teks medis paling terkenal yang pernah ditulis sepanjang sejarah."
Osler, seperti terpacak pada laman Britanicca, menilai sosoknya sebagai seorang
praktisi kedokteran yang sukses sekaligus berperan sebagai negarawan, guru,
filsuf dan tokoh sastra.
Makam Ibnu Sina di kota
Hamadan, sebelah tenggara Teheran, Iran, pada 1950 diperbarui dan diubah
menjadi museum yang dilengkapi dengan perpustakaan dengan ribuan koleksi buku.
Tokoh muslim ini disebut mampu mengembalikan kejayaan ilmuwan Islam abad
pertengahan dan karyanya masih diakui hingga sekarang.
Dia adalah pengarang dari 450
buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi
dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran
modern.” George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam
dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.”
pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of
Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At
Tibb).
Kehidupannya dikenal lewat
sumber – sumber berkuasa. Suatu autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama
kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga
sekretarisnya dan temannya.
Ibnu Sina lahir pada tahun 370
(H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah
Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili,
berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah
gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah
Afghanistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di
Bukhara.
Meskipun secara tradisional
dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan
memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para
gurunya pada usia 14 tahun.
Ibn Sina dididik dibawah tanggung
jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman
diantara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap
intellectual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya / Child prodigy
yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi
Persia. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai
untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata
pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.
Dia mempelajari kedokteran
pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui
pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode –
metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang
fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa “Kedokteran tidaklah ilmu yang
sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya
cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai
merawat para pasien, menggunakan obat – obat yang sesuai.” Kemasyuran sang
fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa
meminta bayaran.
Sebagian karya-karya beliau adalah
:
1. Kitab Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine).
Karyanya
dalam bidang ilmu kedokteran. Buku yang terbagi atas 3 jilid ini pernah menjadi
satu-satunya rujukan dalam bidang kedokteran di Eropa selama lebih kurang lima
abad. Buku ini merupakan iktisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di
timur. Buku ini di telah diterjemahkan ke bahasa Latin.
Kitab
ini selain lengkap, juga disusun secara sistematis. Dalam bidang Materia
Medeica, Ibn Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum
budrunga - dimana tumbuh-tumbuhan banyak membantu terhadap beberapa penyakit
tertentu seperti radang selaput otak (Miningitis).
Ibn
Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana
600 tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Ia pulalah yang pertama
kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya
lewat tali pusarnya. Ia jugalah yang mula-mula mempraktekkan pembedahan
penyakit-penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya. Ia juga terkenal sebagai
dokter ahli jiwa dengan cara-cara modern yang kini disebut psikoterapi.
2.
Kitab Ash-Shifa’
Sebuah
karya kitab dalam bidang filsafat. Kitab ini antara lain berisikan tentang
uraian filsafat dengan segala aspeknya, dan karena sangat luas cakupannya, maka
bermunculan nama-nama terjemahan yang dilakukan oleh para ahli terhadap hasil
karya filsafat Ibn Sina ini. Karya ini merupakan titik puncak filsafat
paripatetik dalam Islam.
Kitab
ini terdiri dari 18 jilid yang berisikan uraian tentang filsafat yang mencakup
empat bagian, yaitu: ketuhanan, fisika, matematika, dan logika. Dalam kitab ini
juga ditemukan beberapa pemikirannya tentang pendidikan.
3.
Kitab An-Najat.
Sebuah
karya kitab yang berisikan ringkasan dari kitab Ash-Shifa’, kitab ini ia tulis
untuk para pelajar yang ingin mempelajari dasar-dasar ilmu hikmah, selain itu
buku ini juga secara lengkap membahas tentang pemikiran Ibn Sina tentang ilmu
Jiwa.
4. Kitab
fi Aqsami al-‘Ulumi al-‘Aqliyyah.
Sebuah
karya kitab dalam bidang ilmu fisika. Buku ini ditulis dalam bahasa Arab dan
masih tersimpan dalam berbagai perpustakaan di Istanbul, penerbitannya pertama
kali dilakukan di Kairo pada tahun 1910 M, sedangkan terjemahannya dalam bahasa
Yahudi dan Latin masih terdapat hingga sekarang.
5.
Kitab Lisanu al-‘Arab.
Kitab
ini merupakan hasil karyanya dalam bidang sastra Arab. Kitab ini berjumlah
mencapai 10 jilid. Menurut suatu informasi menjelaskan bahwa buku ini Ibn Sina
susun sebagai jawaban terhadap tantangan dari seorang pujangga sastra bernama
Abu Manshur al- ubba’I di hadapan Amir ‘Ala ad-Daulah di Ishfaha.
6.
Kitab Al-Isharat wa al-Tanbihat,
Sebuah
karya berisikan tentang logika dan hikmah.Selain kitab-kitab tersebut masih
banyak karyanya yang berjumlah cukup besar, namun untuk mengetahui berapa
jumlah buku karya-karyanya tersebut secara pasti sangatlah sulit, mengingat
perbedaan tentang sedikit banyaknya data yang digunakan. Namun untuk menjawab hal
ini, setidaknya ada dua pendapat.
- Dari penyelidikan yang dilakukan oleh Father dari Domician di Kairo terhadap karya-karya Ibn Sina, ia mencatat sebanyak 276 (dua ratus tujuh puluh enam) buah.
- Phillip K. Hitti dengan menggunakan daftar yang dibuat al-Qifti mengatakan bahwa karya-karya tulis Ibn Sina sekitar 99 (sembilan puluh sembilan) buah. Karya-karyanya ini sebagian besar dalam berbahasa Arab, tetapi ada sebagian kecil diantaranya berbahasa Persia, seperti Danishnamah ‘Ala’i (buku ilmu pengetahuan yang dipersembahkan kepada ‘Ala al-Daulah). Buku ini merupakan karya filsafat pertama di Persia Modern.
Dikatakan
bahwa Ibn Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation
Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibn Sina membahas tentang asal nama
gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di dalam buku tersebut Ibn Sina
mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab:
- pertama, menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa
- karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya.
Ini
adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.” Karena intelektualitas
Ibn Sina yang cukup representatif pada masanya sehingga diberi gelar Al-Shaikh
Al-Rais (The Leader Among Wisemen) Hujjat Al-Haqq (The Proof Of God) dan bapak
kedokteran Islam (Amir Al-At}ibba’, The Prince Of Physicians). Suatu predikat
mulia bagi seorang intelektual profesional yang tidak mudah diberikan kepada
siapapun karena eksistensinya yang ketat memikat.
Penguasaannya
terhadap ilmu pengetahuan, sangat berpengaruh terhadap pemikirannya tentang
konsep pendidikan. Di samping itu, sebenarnya yang mematangkan teori-teori
pendidikannya ialah ia mempunyai pengalaman praktis dalam pengajaran.
Pandangan-pandangannya tentang pendidikan sangat tajam dan komprehensif. Dengan
kemampuannya tersebut, maka wajar bila para pakar pendidikan Islam mengakui
bahwa Ibn Sina banyak memberikan saham dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan
Islam, terutama dalam pendidikan anak didik.

Maa syaa Allah...
ReplyDeleteTulisannya sangat membantu untuk tugas. Ngomong ngomong sumber rujukanx bisa dilihat dimna yah??trimakasih